selamat pagi, pejalan
waktu bertebaran dan berputar tanpa terasa, ya. pagi kita seolah menjelma dalam putaran rotasi yang tak sempat kita tunggu lagi. namun, perjalanan semakin menyenangkan, bukan?
mungkin, berkali-kali aku tak sempat mengucap terima kasih. untuk ajakan bangunmu di kala subuh sementara kantuk masih menyekapku dalam kenyamanan. untuk segelas air yang kau sodorkan saat aku terlalu malas beranjak dari depan TV. untuk selalu percaya menaruh mimpi-mimpi dalam tanganku, dan membantunya menjelmakan. aku sering lupa, untuk mengucapkan terima kasih.
selamat pagi, pejalan
hari ini, mari berhenti sejenak. mari mengingat tentang berkat yang lupa kita semat.
selamat pagi, pejalan
mimpi-mimpi yang kau bantu jelmakan nanti tentu saja adalah inginku agar selalu berjalan bersisian denganmu. maka, jangan sekali-kali lepaskan tanganmu. berjanjilah. untuk terus berada dalam subuh-subuhku yang nyenyak. untuk terus menghangatkan ruang dalam cerita yang semakin hari semakin menyempurna.
selamat pagi, pejalan
selamat pagi, kekasih hati
selamat pagi, suamiku
kau dan aku akan menua, tentu saja
dan semoga selalu bersama bahagia :)
for: 25 April 2012
I owe the picture from here
di sini tempat kami mengumpulkan cinta. musim demi musim. hangat di musim hujan. meneduhkan di musim hangat.
Selasa, 24 April 2012
Sabtu, 21 April 2012
“Seorang muslim adalah saudara orang muslim
yang lainnya, tidak boleh menzaliminya, tidak boleh menghinanya, dan tidak juga
meremehkannya… cukuplah seseorang telah berbuat kejahatan jika ia meremehkan
saudaranya yang muslim,” [HR MUSLIM]
Tentang
bagaimana memaknai, memang bagi setiap orang bisa berbeda-beda. Seolah sebuah karya
sastra yang multiinterpretasi, hidup pun sedemikian rupa. Mungkin, suatu senja
bagi seseorang begitu indah dan membuat bahagia, siapa yang tahu kalau orang
yang lain diam-diam merutukinya.
Begitupula
dengan sebuah profesi. Bisa jadi, bagi seseorang profesinya ia anggap menyenangkan
dan berguna, tidak ternyata untuk seorang yang lain. Bisa jadi, si orang lain
ternyata menganggap rendah profesinya itu.
Tentang
bagaimana memaknai, itulah yang bisa saya tangkap sore ini saat saya tak
sengaja membaca komen di Facebook seorang teman.
Si
teman—sebut saja begitu—memposting sebuah foto sambil berharap suatu saat
anaknya bisa kuliah di FK UI (foto yang diposting). Doa yang baik ini tentu
saja bersambut amin dari beberapa temannya. Salah satu komen malah berdoa
semoga anaknya pula masuk kampus yang sama. Sayangnya, si teman malah menjawab,
kalau si anak teman yang lain itu masuk ke Unindra saja—yang dosennya Wira
(suami saya).
Tepatnya,
ia berkata begini, “si_____ nt kuliah di Unindra aja diajar om Wirawan Sukarwo,
he2..”.
Tertegunlah saya. Saya merasa ada yang salah
dengan kalimat sarkas ini. Kesan meremehkan yang keluar bukan cuma untuk Wira,
tetapi juga untuk Unindra. Seolah-olah, Unindra hanya tempat “jelek” bagi
mereka yang tidak pantas kuliah di UI. Saya merasa ada yang salah tentang cara
memaknai si teman ini. Jadi, mari saya ceritakan sedikit.
Wira,
dulu sahabat saya (7 tahun), kini suami saya (1 tahun 5 bulan), memang sekarang
menjadi dosen di Universitas Indraprasta PGRI (UNINDRA). Teman-teman Wira yang
kenal baik pasti tahu kalau passion
Wira memang mengajar.
Saat
ia memutuskan menjadi dosen, melepas peluang-peluang menjadi PNS—seperti keinginan
orangtuanya, saya mendukung saat itu juga. Karena saya tahu, inilah passion Wira. Bagi saya, tidak ada yang
lebih baik, selain bekerja dalam bidang yang dicintai. Kebetulan pula, saya
pembenci orang-orang oportunis, dan berdoa setiap malam semoga saya dan suami
tidak terjebak dalam dunia kerja yang penuh orang-orang itu. Alhamdulillah,
sepertinya Allah mendengar doa saya. Menjadi editor adalah dunia yang memang
saya nikmati, dan menjadi dosen adalah dunia yang benar dirindu oleh Wira.
Setiap
pulang bekerja, saya dan Wira selalu mengulang apa yang terjadi hari itu di
tempat kerja masing-masing. Dan, mengalirlah banyak cerita tentang Unindra.
Unindra
memang didirikan oleh yayasan PGRI dan bertujuan mencetak guru-guru yang santun
dan berpendidikan, begitulah kira-kira visi mereka. Tidak ada yang lebih mulia,
bukan?
Tentu
saja, Unindra tidak se-elite UI (saya dan Wira adalah alumni UI), tetapi
(lagi-lagi) menurut saya, tidaklah patut membuatnya seolah-olah jauh lebih
tidak berkelas dibandingkan UI.
Setiap
malam, Wira akan menceritakan karakter mahasiswa-mahasiswanya. Tentu saja,
tidak bisa dibandingkan “penguasaan akan pengetahuan umum” mahasiswa-mahasiswa
Unindra dengan teman-teman yang dulu bareng kuliah di UI. Namun, mata mereka
tampak selalu haus akan ilmu, begitu kata Wira, yang matanya pun tampak
bersinar saat bercerita. Setiap bertemu di mushola atau kantin,
mahasiswa-mahasiwa ini akan mencium tangan Wira. Seolah mesin waktu berputar
dan kita kembali ke zaman SD, saat kita sangat hormat pada guru yang mengajar.
Rasa respek, haus akan ilmu, dan semangat untuk mengubah nasib, itulah yang
selalu menyemangati Wira setiap akan mengajar.
Saya
pun selalu senang mendengar kisah-kisah di kelas Wira. Kadang ikut bersimpati,
misalnya saat tahu beberapa mahasiswa harus berkejar-kejaran membagi waktu
antara kuliah dengan bekerja. Rata-rata, mahasiswa Unindra adalah pegawai
Giant, Indomaret, Alfamart, dan sejenis. Hidup yang tak berpihak, tak membuat
mereka menyerah untuk mengubah nasib.
Tidak
seperti di UI yang bebas menggunakan apa saja saat kuliah (dulu saya bahkan
mengenakan kaus oblong, jeans, dan sandal jepit ke kelas)—di Unindra
mahasiswanya harus memakai kemeja dan bersepatu. Mereka nantinya akan jadi
guru, yang digugu dan ditiru, jadi sejak dinilah harus
ditanamkan akhlak-akhlak yang baik, begitu kira-kira yang sempat diceritakan
Wira tentang alasannya.
Uang
kuliah di Unindra memang terbilang murah (bagi mereka yang mampu). Per semester
para mahasiswa ini ditarik bayaran Rp600 ribu. Bandingkan dengan UI, yang per
semesternya saja sudah berapa juta. Mungkin pula alasan ini yang membuat si
teman terkesan “meremehkan” Unindra. Padahal, bagi mahasiswa-mahasiswanya, uang
600 ribu itu pun terkadang sulit. Tak jarang, saat akan ujian, Wira dan
beberapa teman dosennya berembuk mengumpulkan dana untuk mahasiswa yang tak
bisa ikut ujian karena tak mampu membayar SPP. Hal yang (hampir) tak pernah
terjadi di UI.
Kualitas
Unindra juga (menurut saya) tidaklah seburuk dugaan si teman (sehingga sangat
takut anaknya kuliah di sana). Wira kebetulan mengajar di program studi Desain
Komunikasi Visual. Teman-teman dosennya yang mengajar, rata-rata adalah jebolan
dari IKJ atau desain komunikasi visual Trisakti, tentu saja yang sangat
kompeten di bidangnya. Salah satunya, Winni Gunarti (silakan searching di google)
adalah penulis beberapa buku dan sering ikut seminar baik tingkat nasional
maupun internasional. Wira sendiri menyelesaikan S1 dan S2 di UI. Jadi, menurut
saya tidak ada alasan mereka tidak mengajar dengan baik.
Mahasiswa-mahasiwanya
pun banyak yang berbakat. Bahkan, seorang mahasiswa menarik perhatian saya
karena ilustrasi yang ia buat menyamai ilustrasi yang dibuat illustrator unggul.
Ia berada di tempat yang tepat, bukan?
Jadi,
jika memang tidak (mampu) lulus UI, apa salahnya kuliah di Unindra?
Ah,
mungkin memang masing-masing orang berbeda memaknai segala sesuatu. Abaikan saja,
jika Anda tidak setuju dengan apa yang saya sampaikan. Saya hanya sekadar
bercerita. Tentang tempat orang-orang merajut mimpi yang akhir-akhir ini lekat
dalam hidup saya sehingga ikut terluka saat ada yang meremehkannya, meski
mungkin hanya bercanda.
Rabu, 22 Februari 2012
Nyala Itu Datang Menghangatkan Kami :)
Entah mulai dari mana, tidak terasa sudah 7 bulan sejak kelahiran putri pertama kami, Nyala Matahari. Sejak saat itu, keinginan untuk meng-up date tulisan di blog ini seringkali muncul. Namun, keceriaan bersama Nala (panggilan kami untuk Nyala Matahari) telah mengalihkan banyak sekali aspek kehidupan yang aku dan gita jalani.
Seharusnya aku menceritakan kronologis peristiwa kelahiran Nala 18 Juli 2011 yang lalu. Tapi siapalah aku ini yang tidak bisa menulis dengan baik. Sudah beberapa paragraf aku ketik-hapus-ketik-hapus untuk menulis peristiwa itu. Entah kenapa, aku tidak bisa menghasilkan tulisan yang bisa mewakili perasaanku saat itu. Yeah, aku memang bukan penulis cerita yang baik. Maksudnya gini loh, yang aku ingat, saat itu setiap detiknya begitu menegangkan, dimulai dari Gita yang masuk ruang bersalin sampai kemudian masuk ruang pemulihan pasca-operasi. Tapi, setelah beberapa kali mencoba membaca paragaf yang kutulis, tidak ada kesan tegang sama sekali. Huh!! Sudah dicoba berkali-kali tetap tidak bisa. Aku malu kalau harus membangunkan Gita dan meminta bantuan untuk menulis hal macam itu.
Sudahlah, aku pasrah, biar gita saja yang menulis cerita itu. Walaupun aku juga sangat tidak yakin dia bisa menulis lebih baik dariku. Kenapa? Karena berkali-kali gita sering bilang kalau dia lupa rasa sakitnya kontraksi menjelang persalinan. Gita memang tertidur pulas saat operasi caesar dilakukan, tapi percayalah, keputusan operasi itu didahului oleh kontraksi hebat yang tidak kunjung mengahasilkan pembukaan yang cukup untuk melakukan persalinan normal. Rasa sakit yang luar biasa itu membuat janin dalam perutnya menjadi tegang dan stress, yang kemudian dikategorikan sebagai gawat janin. Nah, status gawat janin itulah yang membuat dokter kandungan kami memutuskan untuk operasi. Pada umumnya, operasi Caesar cukup dilakukan dengan bius lokal. Namun, gita terpaksa harus dibius total karena kondisinya memang serba dadakan. Tidak ada yang mengira sama sekali bakal operasi. Loh kok, jadi cerita juga ya? Iya begitulah, pokoknya saat ini gita sering bilang kalau dia sudah tidak ingat lagi bagaimana rasa sakitnya menjelang persalinan. Tapi mungkin juga dia bisa menulis dengan baik karena memang kerjaannya tiap hari berhadapan dengan naskah novel.
Nala memang menjadi nyala kebahagiaan bagi kami. Kini, setiap bertemu Nala, segala kegundahan dan kelelahan setelah seharian bekerja, langsung lenyap berganti kebahagiaan hanya dengan melihat cengiran di wajah Nala. Setiap pulang kerja, disambut Nala di depan pintu dengan ketawa khasnya, HILANG semua capek. Gitulah, kira2.
Sekarang, umur Nala sudah 7 bulan. Tidak terasa waktu berjalan sangat cepat.Nala sudah belajar makan, mengoceh tatatata-yayayayaaah dan tak lama lagi ia akan belajar berjalan. Ah, betapa menyenangkannya menunggu nyala terus tumbuh menerangi kami. Menyenangkan melihat terus sinar matahari kami :) . (wiRa)
Jumat, 04 November 2011
Nyala Matahari
kami beri namamu nyala matahari, nak--
agar kau tak hanya peduli dirimu sendiri--
tapi tumbuh menjadi manfaat untuk sekitarmu--
kami beri namamu nyala matahari, nak--
karena seperti itulah kami ingin kau nantinya--
tak takut menantang dunia, tapi tak juga membuat orang lain kalut--
tidak, kami tak ingin kau membakar--
doa kami, kau menjadi nyala, semangat, cahaya, yang selalu meneduhkan--
bertualanglah, nak, nantinya--
torehkan banyak cerita--
beri nyala tempat-tempat gelap--
dan selalulah kembali menjadi matahari--
ya, ke mana pun nanti kau pergi--
selalulah menjadi nyala matahari kami
Rabu, 30 Maret 2011
SAMAKAN RASA
Aku sudah memahami bahwa menikah adalah menyatukan dua keluarga, bukan hanya dua orang. Namun, aku baru memahami kalau menikah itu juga artinya menyatukan dua lidah. Bukan, ini bukan hal tentang percumbuan, tetapi ini benar tentang selera makanan.
Akhirnya, setelah 6 bulan menikah, aku dan istriku bisa menyamakan selera makanan kami. Luar biasa, karena sekarang aku menjadi orang yang sangat menggemari masakan istriku sendiri. Selama ini, kami selalu menyelesaikan masalah selera itu dengan membeli makanan di luar. Efeknya jelas sangat terasa pada pengeluaran yang tidak sedikit. Kami sulit berbagi makanan karena punya lidah yang berbeda selera. Gita yang Sumatra terbiasa dengan rasa pedas, asin, dan kering. Aku yang Jawa terbiasa dengan rasa manis dan kuah basah.
Namun, ternyata Gita bisa memasak berbagai menu yang ia suka. Sampai hari ini, ada beberapa menu kesukaannya yang sudah beberapa kali diulang dan ternyata dapat pula aku nikmati. Pertama, ia suka sekali sambal goreng udang. Kedua, ia juga suka memasak teri sambal hijau. Masakan yang satu ini juga sering dibuat oleh ibuku, tapi dengan cita rasa yang berbeda. Rasa masakan istriku sedikit lebih gurih dan pedas dibandingkan masakan ibu. Ketiga, Gita senang membuat terong goreng tepung. Menu yang satu ini meski tidak terlalu istimewa, selalu menambah selera makan ketika dihidangkan bersama sambal tomat yang diracik tidak terlalu pedas. Menu keempat, menu favorit kami, tumis kangkung atau cah kangkung. Menu berikutnya adalah sayur asam. Nah, kalau yang satu ini lidahku tidak terlalu senang. Gita suka sayur asam dengan gaya betawi yang asam dan sedikit gula. Sedangkan aku terbiasa makan sayur asam dengan rasa agak manis. Jadi, kalau ia memasak sayur asam, sudah pasti ia makan sendiri.
Buku resep masakan untuk ibu hamil dan lain-lain sering kami buka-buka. Terkadang, niat untuk membuat salah satu atau beberapa menu dalam buku tersebut begitu kuat. Namun, biasanya ketika sampai di supermarket atau tukang sayur, pilihan bahan baku makanannya akan kembali ke paragraf sebelumya. Benar kata iklan mie instan, lidah memang tidak bisa berbohong. [wiRa]
we owe the picture from here
NGUPATI
Hari Kamis, 10 Februari yang lalu, aku dan Gita pergi ke RS.Hermina untuk periksa kehamilan rutin. Kunjungan itu merupakan kunjungan yang keempat kalinya. Artinya, umur janin dalam kandungan Gita sudah 4 bulan. Syukur alhamdulillah, sejauh ini semua tampak sehat-sehat saja.
Ada sebuah tradisi dalam budaya Jawa dalam menyambut usia kehamilan 4 bulan. Tradisi itu disebut "ngupati" yang berasal dari kata ketupat. Ketupat berbentuk segi empat yang diasosiasikan sebagai umur janin dalam kandungan yang sudah 4 bulan. Secara teknis, ngupati berarti membuat ketupat serta lauk-pauknya untuk dihidangkan atau dibagikan kepada tetangga dan kerabat di sekitar rumah.
Untuk itulah, hari Jumat tanggal 11 Februari, aku dan gita pergi ke Jatilawang untuk melaksanakan tradisi tersebut. Pada awalnya, kami berencana pergi sekeluarga menggunakan mobil seperti halya ritual mudik lebaran. Namun, ibuku ternyata memiliki agenda yang tidak bisa ditinggalkan, sehingga rencananya berubah total. Aku pergi bersama gita dan adik iparku Ice yang masih kuliah di Bandung. Kami pergi bertiga menggunakan kereta api kelas bisnis dari stasiun Jatinegara. Perjalanan yang cukup berkesan mengingat aku sudah cukup lama tidak bepergian dengan kereta api ke luar kota.
Sesampainya di Jatilawang, kami betul-betul beristirahat. Pikiran dan hati rasanya sangat tenang. Pergi ke kampung pada momen selain lebaran betul-betul memberikan efek relaksasi yang dahsyat. Sajian teh tawar hangat dengan kudapan seperti pisang rebus, kacang rebus, dan mendoan merupakan makanan terlezat di saat-saat seperti itu. Acara ngupati yang direncanakan baru akan dilaksanakan keesokan harinya. Hari itu, kami bercengkrama dengan nenek dan keluargaku yang tinggal di sana.
90% acara ngupati dilakukan di dapur. Artinya, memasak ketupat dan lauk-pauk adalah keseluruhan teknis acara ngupati. Karena itu, aku dan gita tidak perlu harus ikut campur mengingat sumber daya manusia yang ada di kampung lebih dari cukup. Mereka sangat antusias dan gesit membuat bungkusan ketupat. Tidak terasa, tiba-tiba semua ketupat sudah habis dibagikan. Nenekku menyisakan sedikit di meja makan untuk hidangan makan malam.
Jika kita merujuk kepada sunah atau hadis, maka tidak akan ada satu dalil pun yang membahas tradisi ngupati. Namun, bagi saya, ini hanyalah amalan sedekah yang biasa saja dan tidak menggunakan ritual tersendiri. Yang dilakukan hanyalah memasak ketupat beserta sayurnya kemudian langsung dibagikan. Tidak ada pensyaratan yang macam-macam seperti jumlah ketupat yang dibuat, jenis lauk yang boleh dimasak dan sebagainya. Karena itulah, kami menjalankan tradisi ini dengan keyakinan bahwa tidak ada masalah akidah yang disengketakan kali ini.
Keterbatasan alat transportasi di Jatilawang membuat kami tidak bisa bepergian ke tempat-tempat menarik di sekitar sana. Bisa dikatakan, selama 3 hari kami hanya di rumah dan sesekali jalan-jalan ke sawah dan sungai terdekat. Untunglah, kami membawa kamera DSLR yang masih dicicil untuk memaksimalkan kesenangan. Di Jatilawang juga ada sepupu-sepupuku, Fadil dan Ami yang sedang beranjak "gede". Mereka sopan dan menyenangkan untuk diakrabi.
Hari senin pagi kami bersiap-siap pulang kembali ke Jakarta. Ikut bersama kami dalam kereta adalah mbah Jatun dengan Lik Agus anaknya. Alhamdulilah, kami tiba dengan selamat pada sore hari dengan oleh-oleh rasa lelah.
Ada sebuah tradisi dalam budaya Jawa dalam menyambut usia kehamilan 4 bulan. Tradisi itu disebut "ngupati" yang berasal dari kata ketupat. Ketupat berbentuk segi empat yang diasosiasikan sebagai umur janin dalam kandungan yang sudah 4 bulan. Secara teknis, ngupati berarti membuat ketupat serta lauk-pauknya untuk dihidangkan atau dibagikan kepada tetangga dan kerabat di sekitar rumah.
Untuk itulah, hari Jumat tanggal 11 Februari, aku dan gita pergi ke Jatilawang untuk melaksanakan tradisi tersebut. Pada awalnya, kami berencana pergi sekeluarga menggunakan mobil seperti halya ritual mudik lebaran. Namun, ibuku ternyata memiliki agenda yang tidak bisa ditinggalkan, sehingga rencananya berubah total. Aku pergi bersama gita dan adik iparku Ice yang masih kuliah di Bandung. Kami pergi bertiga menggunakan kereta api kelas bisnis dari stasiun Jatinegara. Perjalanan yang cukup berkesan mengingat aku sudah cukup lama tidak bepergian dengan kereta api ke luar kota.
Sesampainya di Jatilawang, kami betul-betul beristirahat. Pikiran dan hati rasanya sangat tenang. Pergi ke kampung pada momen selain lebaran betul-betul memberikan efek relaksasi yang dahsyat. Sajian teh tawar hangat dengan kudapan seperti pisang rebus, kacang rebus, dan mendoan merupakan makanan terlezat di saat-saat seperti itu. Acara ngupati yang direncanakan baru akan dilaksanakan keesokan harinya. Hari itu, kami bercengkrama dengan nenek dan keluargaku yang tinggal di sana.
90% acara ngupati dilakukan di dapur. Artinya, memasak ketupat dan lauk-pauk adalah keseluruhan teknis acara ngupati. Karena itu, aku dan gita tidak perlu harus ikut campur mengingat sumber daya manusia yang ada di kampung lebih dari cukup. Mereka sangat antusias dan gesit membuat bungkusan ketupat. Tidak terasa, tiba-tiba semua ketupat sudah habis dibagikan. Nenekku menyisakan sedikit di meja makan untuk hidangan makan malam.
Jika kita merujuk kepada sunah atau hadis, maka tidak akan ada satu dalil pun yang membahas tradisi ngupati. Namun, bagi saya, ini hanyalah amalan sedekah yang biasa saja dan tidak menggunakan ritual tersendiri. Yang dilakukan hanyalah memasak ketupat beserta sayurnya kemudian langsung dibagikan. Tidak ada pensyaratan yang macam-macam seperti jumlah ketupat yang dibuat, jenis lauk yang boleh dimasak dan sebagainya. Karena itulah, kami menjalankan tradisi ini dengan keyakinan bahwa tidak ada masalah akidah yang disengketakan kali ini.
Keterbatasan alat transportasi di Jatilawang membuat kami tidak bisa bepergian ke tempat-tempat menarik di sekitar sana. Bisa dikatakan, selama 3 hari kami hanya di rumah dan sesekali jalan-jalan ke sawah dan sungai terdekat. Untunglah, kami membawa kamera DSLR yang masih dicicil untuk memaksimalkan kesenangan. Di Jatilawang juga ada sepupu-sepupuku, Fadil dan Ami yang sedang beranjak "gede". Mereka sopan dan menyenangkan untuk diakrabi.
Hari senin pagi kami bersiap-siap pulang kembali ke Jakarta. Ikut bersama kami dalam kereta adalah mbah Jatun dengan Lik Agus anaknya. Alhamdulilah, kami tiba dengan selamat pada sore hari dengan oleh-oleh rasa lelah.
Rabu, 26 Januari 2011
masa-masa menakjubkan :P
sebenarnya, sudah lama pengen menulis blog ini lagi, tapi... hormon-hormon membuat saya cepat lelah (alaah) dan akhirnya terus-menerus membatalkan niat menulis.
minggu ini sudah masuk minggu ke 15 usianya. ah, perasan saya tak keruan setiap membaca artikel perkembangan janin per minggunya. subhanallah. Dalam fase-fase perjalanan yang sudah saya lewati, kali ini adalah fase yang benar-benar menakjubkan dan memabukkan (hehe).
Sebagai pengidap maag, lambung saya sangat sensitif. Itu membuat mual dan muntah menjadi sangat seru. Kalau mereka bilang morning sick, kalau saya all day sick. Hebat sekali. Yang menghibur, saat seorang teman bilang, mual-mual itu justru menunjukkan kalau si janin sangat sehat makanya hormonnya bekerja. Saya hanya tersenyum senang dan mengaminkan dalam hati.
Belum ditambah mood yang turun naik. Yah, korbannya siapa lagi kalau bukan sahabat dan teman seperjalanan saya. Wira berkali-kali harus kena imbas kebeteaan saya, bahkan saya sering menangis tanpa jelas alasannya. Saat menangis, dalam hati saya juga mikir, kenapa sih saya nangis, tetapi ada sesuatu di luar kontrol saya (alaah) yang seolah menyuruh saya menangis sepuas-puasnya. Hehe.
Ah, benar-benar luar biasa. Dan ini belum setengah perjalanan, Bung!
Minggu ini 15 minggu usianya, saat minggu ke 13, beratnya baru 7 gram. Dengan panjang 7 cm dan panjang kepala 2 cm, kecil sekali kamu, Sayang. Betapa Allah bekerja dengan sangat menakjubkan, menciptakan kehidupan dalam kehidupan.
Minggu depan, rohnya akan ditiup. Saya pun tiap hari tak bosan melangitkan doa. Semoga roh yang Allah pilihkan untuk dititipkan akan menjadi anak yang menyenangkan untuk teman dan keluarganya, selalu bisa bersyukur, rendah hati, dan penuh kasih sayang. Ia juga harus ceria dan pemberani menghadapi petualangan-petualangannya nanti. Amin.
Oh iya, selalu sehatkan dia Ya Allah. selalu sehat :)
Ah, rasanya tak sabar ketemu kamu, Sayang. :*
[gita]
we owe this picture from here
Langganan:
Postingan (Atom)





